Hampir setiap hari, atau setidaknya seminggu sekali atau dua kali, saya dan puluhan atau bahkan ratusan penerjemah lepas pasti mendapatkan notifikasi tentang adanya tawaran job baru, entah dari translatorscafe, Proz, ataupun situs serupa lainnya.

Dulu, yang paling sering saya dapatkan adalah notifikasi yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

– Minimum of 3 years of experience in xxx field – Able to work with CAT tool: SDL Trados, Wordfast, or memoQ – Ability to meet deadlines – Attention to detail – etc. –

Atau yang sedikit lebih “kejam”:

Ilustrasi "minimum requirement" yang diminta oleh sebuah agensi

Ilustrasi: “minimum requirement” yang diminta oleh sebuah agensi

Bagi saya, 3 tahun yang lalu, kesempatan untuk “memenangkan” kompetisi demi memperebutkan 1 job yang terposting di translatorscafe misalnya, sangatlah berat. Bukan hanya karena saya harus berkompetisi dengan puluhan bahkan ratusan penerjemah lepas lainnya, tapi juga karena kebanyakan job poster menginginkan penerjemah yang sudah berpengalaman. Nah, jika semua orang menginginkan penerjemah yang sudah berpengalaman, bagaimana nasib para fresh graduate dan pendatang baru dalam ekosistem industri penerjemahan?

Belum lagi, kadang kita juga “diwajibkan” untuk memiliki akses internet broadband yang notabenenya, kalau bagi saya yang tinggal di daerah, akses internet broadband adalah imajinasi belaka hehe….

Kadang, ditambah lagi agar kita memiliki gadget dengan spesifikasi tertentu. Apalagi saya yang sedari awal memang tertarik dengan penerjemahan mobile game, maka kepemilikan gadget sudah barang tentu jadi wajib. Kan, biasanya agensi akan meminta saya untuk memainkan game yang hendak diterjemahkan biar saya lebih mengenal konten game tersebut. Yang pada akhirnya, diharapkan akan membantu proses penerjemahan game tersebut.

Ilustrasi salah satu syarat untuk bisa bidding suatu project

Ilustrasi: salah satu syarat untuk bisa bidding suatu project

Industri penerjemahan—dan mungkin juga industri lainnya—memang terkadang tidak ramah terhadap para pemula. Lalu bagaimana para pemula bisa memiliki pengalaman sementara kesempatan tidak ada? Banyak penerjemah sudah membahas hal ini dalam blog-blog mereka. Dan kali ini, sebagai “pengulangan” saja, akan saya ulas sedikit.

Menjadi volunteer

Menjadi volunteer pada proyek-proyek terjemahan non-profit sangatlah bagus untuk permulaan. Pilihlah proyek yang sesuai dengan minat. Misalnya saya sendiri, karena suka dengan materi IT maka saya mencoba bergabung dengan proyek-proyek yang memungkinkan saya untuk menerjemahkan UI aplikasi komputer. Misalnya proyek-proyek FOSS. Saya juga bergabung dengan komunitas filmmaker di kota saya untuk mendapat pengalaman menjadi seorang subtitler 🙂

Menjajal menyumbangkan terjemahan di Wikipedia sesuai dengan bidang yang digemari juga salah satu cara agar kita memiliki pengalaman. Berkontribusi di Wikipedia juga memiliki gengsi tersendiri karena para kontributor Wikipedia biasanya bukan sekedar orang yang iseng dengan waktu luangnya, melainkan orang-orang yang berdedikasi terhadap ilmu pengetahuan dan informasi. Maka saya yakin, status “kontributor” di Wikipedia juga akan diperhitungkan. Apalagi jika sudah puluhan atau ratusan kontribusi, maka saya yakin itu bisa dianggap “pengalaman”.

Berkontribusi secara cuma-cuma, berarti tidak ada imbalan berupa uang, melainkan pengalaman dan kepuasan. Nah, karena cuma-cuma dan terkadang juga memakan waktu, jadi, jika tujuan menjadi penerjemah adalah untuk berkarir, maka menjadi kontributor cuma-cuma sebaiknya dilakukan selagi belum dituntut untuk “memproduksi” uang. Selagi masih kuliah misalnya.

Menjadi asisten penerjemah

Sekali lagi, sebenarnya saya cukup beruntung karena memiliki mentor yang begitu menerima saya dengan tangan terbuka. Bukan sekedar memberikan kesempatan belajar, tapi juga memberi saya “luberan” job. Jujur saja, beberapa pekerjaan berbayar pertama saya justru berasal dari beliau. Awalnya, saya diminta mem-backup beliau untuk beberapa proyek terjemahan kecil-kecilan dan juga diminta menjadi the second eye dalam pekerjaan-pekerjaan beliau. Artinya, sebelum saya menjadi seorang penerjemah, saya sudah menjadi proofreader! Hehe….

Nah, jika teman-teman sudah bergabung dengan milis, sudah menemukan mentor yang “cocok di hati”, sudah punya jaringan pertemanan yang luas, cobalah tawarkan diri untuk menjadi bagian dari tim untuk proyek kecil-kecilan mereka. Hal ini hampir sama dengan mengerjakan terjemahan secara voluntary, yaitu akan memakan waktu hingga mendapatkan banyak pengalaman. Tapi yakinlah, setelah sekali dua kali, kita akan percaya diri karena kolom “pengalaman” pada CV kita tidak lagi kosong 🙂

Menulis

Menulis, atau untuk jaman sekarang mungkin lebih spesifik: nge-blog. Adalah salah satu cara untuk menunjukkan minat kita kepada dunia. Entah secara langsung ataupun tidak, pengetahuan yang kita tuangkan dalam bentuk tulisan juga akan menunjukkan bahwa kita menguasai suatu materi tertentu.

Misalnya kita suka traveling dan memiliki blog untuk tempat kita mencurahkan pengalaman kita saat melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Kadang, aktivitas nge-blog sebenarnya sudah cukup menunjukkan bahwa kita memang tahu, mahir, serta berpengalaman soal traveling. Tentunya, semakin sering dan semakin banyak posting tulisan di blog, berarti (idealnya) kita memang benar-benar mumpuni soal tema traveling.

Minat dan menguasai 1-2 bidang yang terkait

Menurut pengalaman saya pribadi, minat juga sesekali menjadi faktor apakah suatu pekerjaan bisa “turun” ke kita atau tidak. Jadi, untuk kali pertamanya ketika saya ditanya apakah saya sudah pernah menerjemahkan DTP atau belum, saya jawab BELUM. Tapi saya katakan bahwa saya cukup mahir mengoperasikan software-software DTP seperti Adobe InDesign, CorelDraw, QuarkXPress, dan Scribus. Saya juga katakan bahwa saya turut terlibat dalam pembuatan buletin PCLOS Magazine, pernah bekerja sebagai tukang desain banner dan kartu nama, pernah menjadi kontributor untuk tabloid komputer ternama dengan “tugas utama” menuliskan review seputar aplikasi-aplikasi komputer, serta tidak buta soal teknik dan materi marketing. Intinya, semua alasan yang mungkin berkaitan dengan penerjemahan materi DTP saya sampaikan.

Mendaftar di agen penerjemahan lokal

Dibandingkan dengan agensi asing, katanya, agensi lokal lebih bersahabat dalam menerima penerjemah baru. Jadi, cara agar mendapat pengalaman ya dengan terjun langsung menjadi penerjemah in-house di suatu agensi penerjemahan 🙂

Bersambung ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *