Masih soal oleh-oleh workshop penerjemahan di UMP yang dipandu oleh Pak Dewantoro Ratri. Silakan baca bagian 1 di sini.

Dari mana belajar menerjemahkan itu?

Pak Dewa menjelaskan, bahwa penerjemahan erat kaitannya dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar, sesuai kaidah-kaidah penggunaan bahasa yang bersangkutan. Artinya, tidak akan ada penerjemahan (yang baik) kalau tidak menguasai aturan atau kaidah penggunaan bahasa yang benar. Singkatnya, jika ingin bisa menerjemahkan, maka harus benar-benar menguasai pasangan bahasa yang hendak dikerjakan. Jadi, jika ingin menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (misalnya), maka cintai, pelajari, dan dalami bahasa Indonesia. Pelajari bagaimana bahasa Indonesia yang baku, bagaimana kalimat yang efektif, kenali betul-betul konsep nomina, verba, adjektiva, dan seterusnya.

translation workshop

Pak Dewa (berdiri) sedang menyampaikan materi. (Dok. LDC UMP)

Selanjutnya, Pak Dewa juga menceritakan bagaimana beliau mengajari siswa-siswinya sedini mungkin agar bisa menerjemahkan teks dengan benar. Kuncinya adalah berlatih dengan kalimat pendek dan sederhana, kemudian tingkatkan tingkat kesulitannya secara bertahap. Dalam workshop penerjemahan ini, Pak Dewa bahkan membagikan modul latihan menerjemahkan untuk siswa-siswinya yang masih SMP kepada para peserta workshop. SMP? Ya, belajar menerjemahkan harus diawali sedini mungkin, bukan hanya dari semester sekian di bangku kuliah, tapi sedini mungkin, sebisa mungkin sejak pertama kali anak-anak dikenalkan dengan bahasa Inggris. Bukan semata-mata untuk mempersiapkan siswa-siswinya menggeluti profesi penerjemahan, tapi demi mencapai tujuan pembelajaran bahasa—mampu berkomunikasi dengan baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan yang berlaku—yang tentu akan sangat mendukung profesi penerjemahan jika siswa-siswinya memang ada yang bercita-cita menjadi penerjemah.

AntWordProfiler dan AntConc

Selain kamus, baik kamus konvensional maupun kamus digital dan kamus online, serta CAT tools, penerjemah juga perlu dipersenjatai perangkat lunak lain, misalnya AntWordprofiler dan AntConc.

Singkatnya, kedua aplikasi ini adalah aplikasi yang dapat kita gunakan untuk menganalisa dan memetakan profil kosakata serta mengukur kompleksitas teks dan frekuensi munculnya suatu kata dalam sebuah teks. Dalam konteks penerjemahan, suatu kata yang muncul berulang-ulang akan membuat teks menjadi terkesan menjenuhkan. Oleh karenanya, perlu adanya variasi kata. Nah, dengan digunakannya kedua perangkat lunak ini secara tandem, kita akan mengetahui kata apa saja yang muncul berulang-ulang dan perlu kita carikan padanan kata yang lain atau sinonimnya, agar teks tidak terkesan membosankan.

Unduh AntWordProfiler di sini dan AntConc di sini.

Dalam workshop ini, Pak Dewa juga mendemonstrasikan penggunaan kedua perangkat lunak tersebut di atas, khususnya untuk penerjemahan teks akademik seperti skripsi dan tesis. Beliau juga mendemonstrasikan penggunaan kedua perangkat lunak tersebut bersamaan dengan kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary versi digital untuk menganalisa keberadaan academic words pada suatu tulisan karya ilmiah.

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *