Menurut Pak Anto, untuk penerjemahan bahasa Inggris ke bahasa Jawa, bahasa Jawa yang dipakai adalah versi Jogja-Solo. Dengan demikian, jelas saya tidak mampu. Bukan karena saya tidak mengenal bahasa Jawa versi Jogja-Solo, tapi karena saya tidak akrab dengan ragam bahasa yang satu ini. Tentu, meski sama-sama bahasa Jawa dan dapat dipahami oleh sebagian besar penutur bahasa Jawa, varian Jogja-Solo tetap memiliki perbedaan dengan varian bahasa Jawa yang saya anut, yaitu Jawa Banyumasan.

Selain berkonsultasi dengan mentor saya, saya juga sempat berbincang (secara online) dengan beberapa rekan penerjemah. Di antaranya adalah Bu Istiani Prajoko, rekan tandem saya untuk beberapa terjemahan teknik. Bu Isti, begitu saya memanggil beliau, yang sudah malang-melintang di banyak proyek penerjemahan EN-JV menuturkan bahwa memang yang “laku” adalah bahasa Jawa varian Jogja-Solo. Selain Jogja-Solo, kadang ada juga yang meminta Suroboyoan (Jawa Timuran), tapi persentasenya sangat sedikit. Bahkan kata beliau, Facebook yang semula berdialek Jawa Timuran, akhirnya diubah menjadi dialek Jawa Tengahan level ngoko. Kenapa ngoko? Karena krama madya dan krama inggil tidak banyak yang bisa 😀

EN-JV translation

Bahasa Jawa ragam mana yang harus saya pakai? Sumber: 1r2f3 / 123RF Stock Photo

Mengapa harus dialek Jogja-Solo? Menurut Bu Isti, tidak ada ketentuan yang jelas soal dialek daerah mana yang harus digunakan. Yang jelas, varian selain Jogja-Solo end user-nya kurang luas, karena itu varian Jogja-Solo menjadi “standar”. Alasan lain, varian Jogja-Solo terbilang cenderung mudah dikenal dan dipahami, serta paling cepat maju mengikuti modernisasi. Sedangkan kalau menurut Pak Dewantoro Ratri (penerjemah asal Sidoarjo) yang juga saya ajak berbincang, alasan yang mendukung mengapa varian Jogja-Solo lebih laku mungkin adalah karena Jogja dan Solo dianggap “lebih adiluhung” dan merupakan “sentra”-nya kebudayaan Jawa.

Dosen saya pernah bilang bahwa standar yang “baku” untuk kue terang bulan adalah martabak manis karena itu yang dipakai di pusat pemerintahan. Berangkat dari pendapat ini maka saya akan menggunakan ragam Jogja/Solo sebagai acuan. Toh ini terbukti dari pelajaran basa Jawa saya waktu SD yang bukunya menggunakan ragam itu (Pepak Basa Jawa-buku legenda) meskipun saya tinggal di Surabaya dan buku itu menjadi tidak relevan tapi sangat bermanfaat memperkenalkan ragam “high culture”. (Dewantoro Ratri, penerjemah dan English trainer asal Sidoarjo)

Mengapa bahasa Jawa itu laku?

Sebenarnya saya sempat merasa “aneh” saat mendengar bahwa bahasa daerah itu laku di industri penerjemahan. Tapi memang demikian adanya. Nayatanya, Bu Isti sendiri misalnya, sudah banyak menerjemahkan manual handphone, tablet, peralatan elektronik, situs web, medsos, hingga sastra! Dan tak jarang juga job pasangan Inggris-Jawa diposting di Translator’s Café. Bahkan bukan bahasa Jawa saja sebenarnya. Sekali atau dua kali saya juga pernah lihat di Translator’s Café, ada yang membutuhkan penerjemah pasangan bahasa Inggris – Sunda atau Inggris – Bali, juga beberapa bahasa daerah lain seperti bahasa Batak, Aceh, maupun Minahasa. Maka, meski tidak banyak, saya yakin, beberapa produk memang ditujukan spesifik ke komunitas masyarakat tertentu sehingga otomatis membutuhkan terjemahan ke bahasa mayarakat (daerah) sasaran produk tersebut.

Oya, ngomong-ngomong, tarif terjemahan Inggris – Jawa termasuk lumayan tinggi, lho. Sekitar 8 sampai 10 sen per kata, sedikit lebih mahal dari Inggris – Indonesia. Menggiurkan, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *