Kendala penerjemahan Inggris – Jawa

Menurut Bu Istiani, kendala penerjemahan Inggris – Jawa adalah belum adanya kamus English – Javanese. Yang ada justru Javanese – English atau Indonesia – Jawa – Indonesia. Khusus untuk kamus Indonesia – Jawa pun isinya “hanya” untuk hal-hal yang tradisional. Sementara untuk hal-hal yang berbau teknologi masih sangat, sangat minim.

Sementara bagi Pak Dewantoro Ratri, kesulitan terbesar adalah menemukan varian Jogja yang relatif dapat diterima oleh semua kalangan (ragam Jawa Timur atau bahkan yang Cirebonan). Tentu, hal ini mengingat beliau berasal dan berdomisili di Jawa Timur.

Bagaimana nasib ragam bahasa Jawa lainnya?

Sebagai orang asli Banyumas, jujur saja saya merasa iri karena bahasa Jawa yang saya pakai sehari-hari “belum laku” di pasaran internasional. Tentu jika dibanding varian Jogja-Solo, bahasa Jawa Banyumasan bukanlah produk “pusat kebudayaan Jawa”. Bahkan bahasa Banyumasan sering diolok-olok sebagai bahasa ngapak atau ngapak-ngapak. Padahal, pada dasarnya penutur bahasa Banyumasan ada sekitar 12-15 juta orang, yang tersebar di wilayah yang tidak terlalu sempit. Sebut saja Banyumas, Kebumen, Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Brebes, dan Tegal. Belum lagi yang di perantauan. Lihat Wikipedia.

Ahmad Tohari, penulis novel “Ronggèng Dukuh Paruk” sekaligus budayawan asli Banyumas yang saya temui di kediamannya hari Kamis tanggal 15 September lalu menuturkan, bahwa bahasa yang dipakai oleh orang Banyumas “kalah saing” di pasaran diakibatkan beberapa peristiwa sejarah yang akhirnya mengubah tatanan bahasa dan masyarakat Jawa secara umum. Beliau menuturkan, mayarakat Jawa yang semula egaliter selama berabad-abad kemudian berubah saat kerajaan Mataram berkuasa. Raja Mataram saat itu memberlakukan adanya “tingkatan” dalam masyarakat—semacam kastanisasi dalam masyarakat Hindu—termasuk dalam hal bahasa, sehingga terciptalah ragam bahasa ngoko, krama, dan krama inggil. 3 “kasta” dalam bahasa Jawa ini di kemudian hari akhirnya juga mempengaruhi bahasa Jawa yang semula dipakai oleh orang-orang Banyumas karena Banyumas saat itu berada di bawah kekuasaan keraton Surakarta (setelah Mataram pecah menjadi Jogja dan Surakarta). Nah, karena berada di bawah kekuasaan keraton Surakarta ini pula, masyarakat Banyumas “terpaksa” mengikuti aturan dari penguasa saat itu, tidak terkecuali soal penggunaan bahasa Jawa yang “baru”. Di kemudian hari. pengaruh keraton Surakarta inilah yang membuat bahasa Jawa Banyumasan tidak murni lagi dan akhirnya “tidak laku” saat dijual di industri penerjemahan saat ini. Bagi Pak Tohari, hilangnya orisinalitas bahasa Banyumasan ini adalah kerugian besar, bukan hanya bagi generasi-generasi muda Banyumas, tapi juga untuk bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *