Pengetahuan dan keterampilan

Di dunia penerjemahan profesional, dua hal yang jelas akan laku adalah pengetahuan dan keterampilan, utamanya keterampilan berbahasa. Di mana pengetahuan dan keterampilan didapat? Jawabannya adalah di bangku sekolah/kuliah, kursus, berlatih dengan mentor, dsb.

Pelatihan dan kursus untuk menambah keterampilan

Pelatihan dan kursus untuk menambah keterampilan. Sumber dan hak cipta gambar: nenovbrothers / 123RF Stock Photo

Beberapa jenis pekerjaan yang “berkerabat” dengan penerjemahan juga membutuhkan skill tambahan, misalnya mampu mengoperasikan aplikasi sound recording / editing, DTP, subtitling, dan lain-lain. Tidak semua kemampuan itu harus diperoleh di bangku sekolah atau kuliah. Tapi, bisa didapat melalui pelatihan-pelatihan dan kursus singkat.

Profesionalisme

Bicara soal profesionalisme, kita bisa mengartikannya ke dalam berbagai bentuk perilaku. Misalnya bertanggung jawab atas apa yang kita “promosikan” dalam CV kita, mampu bekerja sesuai jadwal  atau deadline, mudah dihubungi dan cepat merespon, memberikan hasil terjemahan sebaik mungkin, dan sebagainya. Intinya, jangan membuat klien atau agensi yang mempekerjakan kita jadi kecewa.

Jam kerja yang jelas atau availability juga masuk kategori profesionalme. Dalam konteks saya pribadi sebagai penerjemah lepas, jam kerja yang jelas adalah “ukuran” untuk memudahkan klien atau agensi menimbang-nimbang kapan saya bisa dihubungi dan dipastikan bisa mengerjakan job dari mereka.

Berikutnya, tinggi-rendahnya tarif atau rate juga kadang bisa mewakili kualitas terjemahan yang kita tawarkan. Umumnya, semakin tinggi harganya maka semakin tinggi kualitasnya, dan karenanya dipastikan semakin profesional pula penerjemah yang bersangkutan.

Sarana dan prasarana

Saya masih ingat betul, sekira tiga tahunan yang lalu ketika saya diberi pekerjaan review sebuah aplikasi permainan di Android. Saat itu saya sama sekali belum terpikir untuk membeli HP berbasis Android. Namun karena tuntutan pekerjaan review yang mengharuskan saya untuk “menjajal” sendiri aplikasi permainan tersebut (untuk melihat konteks, kesesuaian, ketepatan penerjemahan, dsb.), maka saya putuskan untuk membeli HP berbasis Android.

Saya juga masih ingat betul ketika saya harus mengganti PC saya ke PC yang lebih muda dan gegas untuk meningkatkan produktivitas saya. Kemudian saya juga harus berlangganan internet, yang semula cukup menggunakan modem Smartfren paket 50.000 per bulan ke layanan IndiHome yang sebulan bisa sampai 250.000-an.

Penerjemah lain, setahu saya malah harus berinvestasi lebih banyak. Misalnya laptop seharga 10 juta-an ke atas ditambah harddisk eksternal untuk pencadangan data, inverter AC-DC untuk mengantisipasi listrik padam, dsb.

Semua hal di atas memang mutlak disediakan untuk menuju sukses.

Networking

Soal bersosialisasi, saya sudah sering mengulasnya pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Misalnya di sini. Bahwa bersosialisasi atau berjejaring itu sangat penting. Jaringan adalah tempat kita menimba ilmu dan informasi baru, mendapat klien baru, serta promosi (yang kadang gratis). Bahkan kadang bisa saling lempar job 🙂

Pemasaran dan promosi

Promosi dapat dilakukan dengan berbagai cara, hampir tanpa batas. Lewat e-mail, blog atau web site pribadi, media sosial, brosur dan flyer, iklan di koran dan majalah, dsb. Bahkan bisa juga mulut lewat mulut. Promosi adalah ujung tombak sebuah usaha. Usaha apa saja, tidak terkecuali dalam pemasaran jasa terjemahan.

Baca juga: langkah-langkah menguasai sistem pemasaran secara otomatis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.