Revisi dan proofread

Selain menerjemahkan, penerjemah juga pasti melakukan tugas revisi. Baik merevisi pekerjaannya sendiri maupun merevisi pekerjaan penerjemah lain. Termasuk melakukan proofread untuk memastikan hasil akhir terjemahan sudah benar-benar baik, tidak ada yang terlewat.

Cultural review

Cultural review ini mirip dengan melakukan proofread terhadap konten transcreation. Selain berupa pekerjaan proofreading terhadap konten transcreation, cultural review juga dapat berlaku pada konten terjemahan biasa, atau malah tidak menyentuh ranah dunia penerjemahan sama sekali. Misalnya begini, ada produk dari luar negeri hendak melakukan penetrasi pasar ke Indonesia. Nah, sebelum masuk ke Indonesia, produsen tersebut harus memastikan bahwa (setidaknya) nama produknya tidak menimbulkan kontroversi di Indonesia. Karenanya, cultural review bisa dikatakan sebagai bagian dari riset pasar, riset merek, atau yang sejenisnya.

Dan sama seperti transcreation, sampai tulisan ini dibuat, saya baru pernah mengerjakan cultural review sebanyak dua atau tiga kali, dan selalu dari konten video game. Nah, dari pengalaman saya yang masih sangat sedikit itu, setidaknya saya bisa melihat tujuan cultural review adalah sebagai berikut:

  1. Memastikan terjemahan konten transcreation tidak menyinggung SARA, tidak mengandung nama orang / tokoh / nama tempat / istilah yang kontroversial dalam bahasa setempat, termasuk jangan sampai ada nama produk lain (beserta tagline, dsb.) yang secara tidak sengaja “menyusup”;
  2. Bagi bangsa Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah dan dialek, secara otomatis berpotensi memiliki beberapa kata yang sama namun dengan arti yang berbeda pada daerah yang berbeda. Di sini, cultural review harus menjamin bahwa hasil transcreation itu netral, sekalipun menggunakan bahasa atau dialek tertentu;

Pernah lihat gedung besar dengan tulisan (maaf) SILIT di Bilangan Jakarta Selatan? Kalau saya sih, belum, hehehe…. Coba saja googling sendiri dengan kata kunci “Silit Jakarta” atau “Silit cookware” 🙂

SILIT (sekali lagi maaf), adalah merek peralatan rumah tangga dari Jerman yang mungkin tidak semua orang familiar dengannya. Saya sendiri juga sama sekali tidak familiar dengannya. Malah baru tahu merek ini sekitar sebulanan yang lalu dari mentor saya.

silit cookware

Silit cookware made in Germany. Sumber gambar: naturallifestyle.

Selain produk perkakas rumah tangga di atas, ada juga RENAULT KWID yang belum lama ini mulai dipasarkan di Indonesia. Sebagian besar orang mungkin sudah tahu Renault, produsen otomotif kelas dunia asal Perancis ini. Renault tidak memiliki “masalah” dengan Indonesia. Yang jadi “masalah” justru nama KWID-nya (bukan masalah besar, sebenarnya. Tapi juga tidak bisa dibilang sepele). Beberapa waktu lalu, di media sosial ada yang sempat “meributkan” soal nama KWID. Ada yang bilang nama KWID “identik” dengan produk KW untuk Indonesia, walaupun jelas itu produk global.

cultural review

Renault KWID, dianggap produk KW. Sumber gambar: https://www.facebook.com/AutonetMagz/

Pekerjaan “meralat” merek semacam SILIT atau KWID jelas seribu persen di luar kuasa penerjemah, tapi meminta masukan mengenai bisa diterima atau tidaknya nama merek tertentu masih bisa menjadi bagian dari tugas penerjemah melalui proses cultural review.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *