Apa yang menjadikan hasil terjemahan game “tidak sedap”, “norak”, dan terkesan asal-asalan?

Ada banyak faktor yang memengaruhi: tenggat yang pendek, volume tinggi, tarif rendah, kendala komunikasi dengan klien, dan hasil terjemahan dari bahasa lain. Nah, selain itu, ada beberapa alasan lagi yang juga turut andil dalam menentukan bagus dan tidaknya hasil terjemahan sebuah game. Apa saja itu?

Baca: Alasan mengapa hasil terjemahan game sering “ngawur” bagian 1

Berikut adalah alasan lain, mengapa hasil terjemahan bisa menjadi “buruk”.

Aplikasi dari klien

Kadang, klien memiliki aplikasi yang mereka kembangkan sendiri (tidak menggunakan CAT tool yang sudah lazim ada di pasaran). Saya tidak bermaksud mengatakan jika aplikasi dari klien bisa membuat hasil terjemahan menjadi buruk, tapi selalu saja ada kemungkinan berpengaruh pada kinerja sang penerjemah yang sebelumnya sudah lama menggunakan CAT tool yang ada di pasaran.

Software penerjemahan game

Ilustrasi: Software penerjemahan game. Sumber gambar: Pexels.

Intinya, semuanya kembali lagi pada aplikasi tersebut:

  1. Apakah aplikasi tersebut mudah dipakai / mudah dipelajari dalam waktu singkat, atau malah susah dioperasikan?
  2. Apakah bisa membantu mempermudah dan mempercepat kerja penerjemah, atau justru mempersulit dan memperlambat kerja penerjemah?
  3. Apakah stabil dijalankan pada kebanyakan sistem operasi tanpa ada masalah kompatibilitas (misal Windows 7, Windows 8, dan Windows 10 baik yang 32-bit maupun 64-bit), atau hanya berjalan baik pada platform sistem operasi tertentu? Misalnya hanya berjalan di Windows 7 Ultimate SP1 ke atas?
  4. Dst.

Saya punya pengalaman yang agak kurang mengenakkan dengan suatu proyek penerjemahan game yang menggunakan aplikasi milik klien:

  1. Aplikasi tersebut tidak memiliki “memori”. Semua repetisi atau pengulangan harus diingat betul dalam kepala, atau disalin terlebih dahulu ke word processor (Ms. Word misalnya). Nanti, jika menemukan segmen yang sama atau mirip, tinggal tempel (paste) dari Ms. Word tadi.
  2. Layout aplikasi tersebut tidak nyaman dipandang. Banyak tombol yang tidak terlihat. Alasan klien: layar monitor saya kurang besar atau resolusi monitor saya kurang tinggi!
  3. Aplikasi tidak bisa membaca glosarium secara otomatis. Semua istilah yang (kemungkinan) terdapat pada glosarium harus dicari secara manual.
  4. Aplikasi tersebut selalu diperbarui di tengah-tengah jalan. Dalam satu minggu, aplikasi bisa diperbarui 2 sampai 3 kali, dan saya “dipaksa” untuk menggunakan versi terbarunya, yang saya rasa hanya ada perbaikan minor.
  5. Aplikasi tersebut tidak memiliki fitur QA. Bahkan file output-nya tidak bisa saya QA di Xbench, misalnya. QA dilakukan oleh klien secara manual, dibaca baris per baris. QA manual berpotensi menyebabkan proses revisi tidak efektif dan berpotensi menimbulkan revisi berulang.

Bagaimana saya bisa “tahan” dengan tool dari klien?

Setelah mengerjakan 2 atau 3 file, akhirnya saya putar otak. Saya tidak bisa bekerja dengan cepat menggunakan tool dari klien. Akhirnya saya coba konversikan semua file yang harus diterjemahkan agar bisa diterjemahkan di CAT tool. Dan ternyata berhasil. Saya pun menawarkan solusi ini pada klien. Prosesnya memang mudah, tapi sangat memakan waktu:

  1. Dari file berformat <.txt > saya impor ke Ms. Excel.
  2. Kemudian, karena ada beberapa kolom (file aslinya berformat tab-delimited text, tidak semua bagian harus diterjemahkan), maka di Ms. Excel saya pilih dulu kolom mana saja yang hendak saya pakai, sisa kolomnya saya sembunyikan (hidden).
  3. Simpan dalam format <.xls> atau <.xlsx> lalu impor di CAT tool.
  4. Setelah selesai diterjemahkan, kembalikan ke file <.xls> atau <.xlsx> (generate target translation), buka di Ms. Excel, simpan ulang sebagai file <.txt> seperti sediakala. Karena ada banyak karakter yang bukan karakter latin, maka encoding-nya juga harus saya perhatikan: Unicode-UTF8.
  5. Untuk memastikan file tersebut terbaca di sistem milik klien, file saya buka menggunakan aplikasi milik klien sekaligus untuk melihat apakah struktur file tidak berubah karena dikerjakan di perangkat lunak lain.

Baca selengkapnya: Memilih kolom untuk diterjemahkan di Excel dan Mengolah file txt

Catatan saya:

Penerjemah profesional hampir tidak mungkin menghasilkan terjemahan buruk, tapi alat bantu yang buruk bisa memengaruhi kinerjanya. Bisa jadi, karena tidak familier dengan alat bantunya, ia jadi tidak bisa fokus pada proses penerjemahannya, melainkan fokus pada masalah yang dibawa oleh alat bantunya.

Jika klien menggunakan perangkat lunak mereka sendiri, coba negosiasikan apakah memungkinkan untuk mengerjakannya di CAT tool yang sudah kita kuasai agar produktivitas kita tidak terganggu.

Kualitas glossary

Glosarium yang baik adalah glosarium yang sudah final, siap pakai, dan tidak ada cacat. Tapi saya juga pernah menerima pekerjaan dengan glosarium yang belum final. Hampir dua atau tiga hari sekali ada penambahan item dan perubahan konten pada glosarium yang bersangkutan. Alhasil, saya harus muat ulang glosarium baru ke dalam proyek yang sedang berjalan. File yang sudah lewat? Harus saya revisi mengikuti glosarium baru! Kerja saya pun tidak cukup sekali-dua kali. Dengan glosarium yang terus berubah, 1 file bisa saya revisi 4 kali!

Proses revisi penerjemahan

Ilustrasi: Proses penyuntingan. Sumber gambar: Pexels.

Selain glosarium yang belum final, kualitas glosarium juga sangat berpengaruh. Misalnya banyak salah tulis (typo) di mana-mana, padanan kata tidak sesuai EYD, ada 2 definisi (padanan kata) untuk 1 istilah, dst. Idealnya, glosarium sudah beres sebelum proyek dimulai. Kalaupun ada penambahan atau perubahan, seharusnya dilakukan setelah proyek selesai diterjemahkan, sehingga tidak ada revisi berulang.

Instruksi dari klien tidak jelas / tidak tetap

Selain kendala kurangnya komunikasi dengan PM atau klien, instruksi yang tidak jelas (atau malah sering berubah-ubah dan bertumpuk-tumpuk), juga bisa menjadi biang keladi buruknya hasil terjemahan game.

Umumnya, dan idealnya, agensi atau klien memberi instruksi tertulis (misalnya dalam bentuk PDF) sebagai panduan tetap. Instruksi tersebut misalnya berisi hal-hal sebagai berikut (hanya contoh):

  1. Cara menggunakan aplikasi dan file referensi yang harus digunakan disertakan dalam folder “xxx”.
  2. Jangan terjemahkan teks dalam huruf kapital (misalnya: BOOK), teks CaMel (misalnya: RedBook), dan teks berwarna merah.
  3. Jangan terjemahkan teks di dalam tanda < > atau { }.
  4. Jangan terjemahkan julukan karakter (misalnya: Vida the Goddess of Virginity).
  5. Jangan terjemahkan nama benda dengan awalan huruf besar (misalnya: Magic Table). Tapi nama benda dengan huruf kecil tetap diterjemahkan (misalnya: magic table).
  6. Gunakan EYD dan tanda baca yang sesuai dengan aturan tata bahasa Indonesia.
  7. Lihat daftar singkatan yang disertakan dalam folder “xxx”.
  8. Dst.

Memangnya ada klien yang tidak memberikan instruksi tertulis dan tetap?

Ada.

Saya pernah mendapat klien yang memberikan instruksi hanya lewat Skype, aplikasi pengiriman pesan seperti Whatsapp dan Line, bahkan lewat telepon! Sejak awal tidak ada instruksi spesifik. Tapi di tengah-tengah jalan, saya ditelepon untuk melakukan ini dan itu. File yang sudah selesai diterjemahkan, langsung minta direvisi segera tanpa menunggu file lainnya selesai diterjemahkan. Ini tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa kali!

Komunikasi melalui telepon, Skye, atau apa pun tidaklah masalah. Yang penting tetap ada instruksi tertulis karena instruksi tertulis bisa diarsipkan dan suatu saat dapat dibuka kembali untuk tujuan tertentu (referensi, tanda bukti, dll.). Idealnya komunikasi dilakukan secara tertulis (via email) salah satunya agar menjadi “bukti” jika terjadi sengketa hasil terjemahan: ini lho, dulu mintanya begini, sekarang kok mintanya begitu? Komunikasi tertulis seharusnya bukan hanya saat klien menurunkan PO, SLA atau NDA, atau dokumen kontrak lainnya.

Misalnya, saya pernah diminta mengerjakan suatu proyek menjawab kuesioner (bukan menerjemahkan, tapi menjawab kuesioner dan tidak ada hubungannya dengan game). Di awal, klien meminta saya menjawab kuesioner tersebut dengan jawaban minimal terdiri atas 6 kata. Tapi ketika file sudah saya kirim dan dicek oleh klien, klien tiba-tiba mengatakan bahwa seharusnya jawaban saya minimal terdiri atas 7 kata. Ada lebih dari 6.000 pertanyaan yang kebetulan saya jawab dengan 6 kata pas (4.000 pertanyaan lainnya rata-rata terdiri atas 8 kata atau lebih).

Karena di awal instruksinya adalah minimal 6 kata, maka saya lampirkan instruksi dari email yang lama soal jumlah kata yang harus saya gunakan untuk menjawab kuesioner tersebut. Saya bilang, “Di awal saya diminta untuk menjawab tiap pertanyaan minimal dengan 6 kata, bukan 7 kata. Jika sekarang Anda ingin menggantinya menjadi 7 kata, maka akan saya kenakan biaya editing karena ini merupakan instruksi baru di luar kesepakatan awal.”

Mengapa saya berani mengenakan biaya editing?

  1. Menjawab kuesioner dengan minimal 7 kata adalah instruksi baru di luar kesepakatan awal (di luar kontrak).
  2. Jawaban kuesioner dikirim bertahap. Dikirim per 500 – 1.000 pertanyaan. Dan selama itu pula, dengan jawaban terdiri atas 6 kata, klien tidak pernah komplain, tidak pernah ada pembicaraan jika instruksi akan diubah. Sementara permintaan untuk mengganti jawaban menjadi terdiri atas minimal 7 kata dilakukan 1 minggu setelah tenggat berlalu.
  3. Ada 6.000 lebih baris yang harus saya revisi yang jelas-jelas instruksinya di luar kontrak, di luar cakupan kerja saya, dan merupakan perintah baru. Maka idealnya dikenakan biaya tambahan.
  4. Sejak awal proyek ini bernilai kecil. Jika saya menuruti klien begitu saja, akan ada banyak waktu saya yang terbuang tanpa dibayar, padahal saya sudah melakukan tanggung jawab saya dengan benar sesuai kontrak.

Akhirnya klien pun menerima hasil pekerjaan saya. Salah satunya karena saya bisa menunjukkan bukti tertulis, bahwa di awal perjanjian, saya harus menjawab kuesioner dengan jumlah kata minimal sebanyak 6 kata. Bagaimana jadinya jika tidak ada instruksi tertulis? Saya pasti tidak berdaya menerima perintah baru klien.

Catatan saya:

Jika klien (atau agensi) berasal dari luar negeri atau klien dalam negeri namun tidak memungkinkan untuk dijumpai secara langsung, selalu sarankan untuk “mengulangi” instruksi, pesan tambahan, atau penyampaian informasi baru melalui email.

Alur kerja yang berantakan

Alur kerja yang ideal untuk menghasilkan terjemahan berkualitas adalah penerjemah diberikan kesempatan untuk menyelesaikan dulu semua dokumen sampai selesai. Setelah itu, baru dilakukan penyuntingan (revisi) hingga proofread. Tapi saya juga pernah mengalami alur kerja yang berantakan. Di tengah perjalanan saya diminta merevisi file yang sudah selesai diterjemahkan terlebih dahulu, lalu lanjut menerjemahkan, revisi lagi, gunakan glosarium baru, revisi lagi, lanjut menerjemahkan, gunakan glosarium terbaru, revisi lagi, dan seterusnya sampai mood saya berantakan!


Itulah alasan mengapa hasil terjemahan game sering dikatakan ngawur. Sebenarnya bukan hanya terjemahan game, tapi bisa juga terjadi pada penerjemahan dokumen apa saja. Ternyata, bukan serta-merta salah si penerjemah, atau karena penerjemahnya tidak profesional, kan? Ada juga beberapa alasan, termasuk kesalahan dari sisi klien—si empunya game (atau dokumen) yang bersangkutan.

Tentu tidak ada klien salah. Klien adalah raja. Klien bisa minta apa saja selama masih dalam cakupan kerja penerjemah. Tapi klien juga harus “dididik” terutama agar mengerti prosedur dan cara atau alur kerja penerjemah. Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *