Cara Menjadi Penerjemah Game

Saya cukup sering mendapatkan email dari rekan-rekan calon penerjemah tentang cara menjadi penerjemah game. Kebanyakan mereka tidak tahu harus mulai dari mana, mendaftarnya ke mana (ke agensi apa), dan sebagainya. Ini adalah pertanyaan terbanyak kedua setelah cara menjadi subtitler, baik menjadi subtitler secara umum maupun menjadi subtitler di TED. Read More

Using ReNamer App To Solve “Failed To Import WorldServer Return Package” In SDL Trados

Failed to Import WorldServer Return Package to Trados?

As I mentioned in my previous post that a return package is basically a zip file, it means that a return package can be manually extracted using WinRar, Winzip, or similar apps to see the contents (which are xliff files). So, knowing that the return package contains xliff files, later, we can manually put them into SDL Trados’ project folder to update the project files.

After extracting the contents of the return package file, we will find that the file name contains language code. Example: sampletranslation.idmlid-ID.xliff, where the id-ID is the language code for Indonesian. Yours might be different, depends on the language pair you work on.

Read More

Failed To Import “sdlrpx.wsxz” File Into SDL Trados

Background

A few days ago, one of my colleagues asked for help from me. He got a revision job, but he couldn’t open an <sdlrpx.wsxz> file, a Worldserver return package he received from an agency he worked for. When he tried to import the file after opening the original package, he got a warning: “The translation package doesn’t contain necessary information. The package you are importing may be a return package.”

The PM had no idea how to open it. Later, he only sent the <.xliff> files so my colleague could check the translation by opening those files one by one without updating the main package.

My colleague asked me if there was any possible way to open the return package, so he could update the package and send back the file in return package format. He had tried to Googling the tricks but found no relevant information. Read More

Maaf, Jasa Terjemah Saya Tidak Murah!

Banyak sekali orang yang masih percaya kalau jasa terjemahan itu seharusnya (dan harus) murah. Karena mereka anggap:

  1. Menerjemahkan itu mudah dan cepat, tinggal salin teks ke Google Translate;
  2. Menerjemahkan itu juga mudah karena sama seperti mengetik biasa, hanya dalam bahasa lain;
  3. Menerjemahkan itu tidak butuh pengetahuan di bidang tertentu, bisa dilakukan oleh siapa saja asal bisa bahasa asing, misalnya saja bahasa Inggris;
  4. Dsb.

Read More

Apa Itu Transkripsionis?

Pernah dengar istilah atau pekerjaan “transkripsionis”?

Sederhananya, transkripsionis (transcriptionist)—atau transcriber—adalah orang yang pekerjaannya mendengarkan sebuah audio lalu menuliskan (atau lebih tepatnya “mengetikkan”) apa yang dibicarakan dalam audio tersebut—atau sederhananya, membuat transkrip berdasarkan audio. Audio yang dimaksud dapat berupa rekaman percakapan (wawancara, talkshow, dll.), instruksi, atau bahkan lagu. Read More

Persiapan Menjadi Seorang Penerjemah Lepas (Bag. 2)

Di tulisan yang lalu, saya sedikit mengulas soal perangkat keras dan perangkat lunak yang saya gunakan sebagai alat kerja dalam proyek-proyek penerjemahan saya. Khusus untuk perangkat lunak, sebenarnya ada banyak yang belum saya sebutkan, terutama CAT tool dan QA tool. Hal ini karena ada banyak sekali CAT tool yang ada di pasaran dan tidak semuanya saya miliki atau saya pakai. Read More

Persiapan Menjadi Seorang Penerjemah Lepas (Bag. 1)

Menjadi seorang penerjemah lepas, tentu ada banyak hal yang harus disiapkan. Mulai dari keterampilan menerjemahkan dan wawasan pada bidang yang ingin digeluti (misalnya bidang teknik, pertambangan, hukum, dsb), CV/resume, perangkat keras, perangkat lunak, dsb.

Nah pada artikel bagian pertama ini, saya akan mengupas tentang perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penerjemah, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Saya asumsikan bahwa Anda telah memiliki bekal keterampilan menerjemahkan dan kemampuan membuat CV. Sehingga dua hal ini tidak akan saya ulas. Read More

Online Profile vs. Online Presence Di Dunia Freelancing (Bag. 2)

Bagaimana kita bisa sukses dengan mengandalkan online presence?

Setelah di tulisan sebelumnya saya sedikit bercerita tentang pengalaman saya soal profil daring dan kehadiran daring, kali ini saya ingin menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin muncul di benak rekan-rekan pembaca. Misalnya:

  1. Setelah saya aktif di LinkedIn, apakah pekerjaan saya terus mengalir?
  2. Apakah tingkat view pada profil dan postingan saya terus meningkat serta berakhir dengan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang menguntungkan (baca: mendapat job baru)?
  3. Apakah hanya di LinkedIn kita bisa “sukses”?

Jawaban untuk pertanyaan pertama

Pekerjaan saya terus mengalir bukan semata-mata karena saya aktif di LinkedIn. Tapi kesempatan-kesempatan baru memang terus bermunculan setelah saya benar-benar aktif di LinkedIn (terhubung dan berinteraksi dengan banyak sesama penerjemah serta staf agensi penerjemahan).

Jika saat ini usaha pemasaran rekan-rekan ada di posisi stagnan, entah belum punya akun di LinkedIn ataupun sudah punya akun tapi belum aktif di LinkedIn, maka mulai sekarang cobalah untuk aktif di LinkedIn. Banyak peluang akan muncul ketika kita terhubung dan berinteraksi dengan lebih banyak orang.

Bila sebelumnya Anda telah membaca artikel saya tentang 50.000+ agensi penerjemahan sedang mencari freelancer, saya yakin Anda telah menghubungi begitu banyak agensi. Nah, jika belum ada yang merespons, jika perlu, lakukan pendekatan baru melalui LinkedIn. Cari tahu siapa saja staf agensi tersebut yang memiliki akun LinkedIn (PM, vendor manager, business development manager, atau siapa saja), lalu jalin pertemanan dengan mereka. Anda bisa menghubungi mereka melalui fitur obrolan (chat), atau lakukan posting secara teratur agar mereka “melihat” siapa Anda. Bila perlu, libatkan mereka dalam postingan Anda. Hanya saja, lakukan perlahan, jangan tiba-tiba secara serampangan menandai (tag) mereka atau menyebut (mention) mereka dalam postingan maupun komentar. Pastikan dulu mereka mau di-tag atau di-mention.

Nantinya, semakin sering Anda berinteraksi dengan mereka, semakin mereka melihat siapa Anda. Bukan tidak mungkin mereka akan menawarkan kerja sama. Malah sepengalaman saya, ada yang baru lihat profil saya, minta berteman, lalu menawarkan kesempatan untuk menjadi freelancer mereka. Usut punya usut, jauh-jauh hari sebelum mereka melihat profil saya, mereka sudah sering melihat postingan saya (yang di-like atau dikomentari oleh koneksi mereka sehingga secara otomatis mereka juga bisa melihat postingan saya).