Oleh-oleh Workshop Penerjemahan Di UMP (Bag. 3 – Selesai)

Workshop penerjemahan dan interpreting yang diadakan oleh Pusat Bahasa UMP sejatinya dilakukan selama dua hari, yaitu tanggal 23-24 Juli 2016. Hari pertama dikhususkan untuk workshop penerjemahan, dan hari kedua dikhususkan untuk interpreting.

Sebenarnya, di penghujung sesi hari pertama workhsop Pak Dewa sempat memberi sedikit gambaran materi untuk hari kedua atau materi interpreting. Beliau sempat memberikan semacam introduction mengenai dunia interpreting dan bahkan dengan bantuan mahasiswa UMP beliau sempat mendemonstrasikan proses atau simulasi interpreting.

Sayangnya, hari kedua saya tidak bisa ikut. Tapi untungnya, saya bisa menghubungi beliau lewat e-mail untuk mengorek sedikit tentang dunia interpreting. Read More

Oleh-oleh Workshop Penerjemahan Di UMP (Bag. 2)

Masih soal oleh-oleh workshop penerjemahan di UMP yang dipandu oleh Pak Dewantoro Ratri. Silakan baca bagian 1 di sini.

Dari mana belajar menerjemahkan itu?

Pak Dewa menjelaskan, bahwa penerjemahan erat kaitannya dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar, sesuai kaidah-kaidah penggunaan bahasa yang bersangkutan. Artinya, tidak akan ada penerjemahan (yang baik) kalau tidak menguasai aturan atau kaidah penggunaan bahasa yang benar. Singkatnya, jika ingin bisa menerjemahkan, maka harus benar-benar menguasai pasangan bahasa yang hendak dikerjakan. Jadi, jika ingin menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (misalnya), maka cintai, pelajari, dan dalami bahasa Indonesia. Pelajari bagaimana bahasa Indonesia yang baku, bagaimana kalimat yang efektif, kenali betul-betul konsep nomina, verba, adjektiva, dan seterusnya.

translation workshop

Pak Dewa (berdiri) sedang menyampaikan materi. (Dok. LDC UMP)

Selanjutnya, Pak Dewa juga menceritakan bagaimana beliau mengajari siswa-siswinya sedini mungkin agar bisa menerjemahkan teks dengan benar. Kuncinya adalah berlatih dengan kalimat pendek dan sederhana, kemudian tingkatkan tingkat kesulitannya secara bertahap. Dalam workshop penerjemahan ini, Pak Dewa bahkan membagikan modul latihan menerjemahkan untuk siswa-siswinya yang masih SMP kepada para peserta workshop. SMP? Ya, belajar menerjemahkan harus diawali sedini mungkin, bukan hanya dari semester sekian di bangku kuliah, tapi sedini mungkin, sebisa mungkin sejak pertama kali anak-anak dikenalkan dengan bahasa Inggris. Bukan semata-mata untuk mempersiapkan siswa-siswinya menggeluti profesi penerjemahan, tapi demi mencapai tujuan pembelajaran bahasa—mampu berkomunikasi dengan baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan yang berlaku—yang tentu akan sangat mendukung profesi penerjemahan jika siswa-siswinya memang ada yang bercita-cita menjadi penerjemah.

AntWordProfiler dan AntConc

Selain kamus, baik kamus konvensional maupun kamus digital dan kamus online, serta CAT tools, penerjemah juga perlu dipersenjatai perangkat lunak lain, misalnya AntWordprofiler dan AntConc.

Singkatnya, kedua aplikasi ini adalah aplikasi yang dapat kita gunakan untuk menganalisa dan memetakan profil kosakata serta mengukur kompleksitas teks dan frekuensi munculnya suatu kata dalam sebuah teks. Dalam konteks penerjemahan, suatu kata yang muncul berulang-ulang akan membuat teks menjadi terkesan menjenuhkan. Oleh karenanya, perlu adanya variasi kata. Nah, dengan digunakannya kedua perangkat lunak ini secara tandem, kita akan mengetahui kata apa saja yang muncul berulang-ulang dan perlu kita carikan padanan kata yang lain atau sinonimnya, agar teks tidak terkesan membosankan.

Unduh AntWordProfiler di sini dan AntConc di sini.

Dalam workshop ini, Pak Dewa juga mendemonstrasikan penggunaan kedua perangkat lunak tersebut di atas, khususnya untuk penerjemahan teks akademik seperti skripsi dan tesis. Beliau juga mendemonstrasikan penggunaan kedua perangkat lunak tersebut bersamaan dengan kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary versi digital untuk menganalisa keberadaan academic words pada suatu tulisan karya ilmiah.

Bersambung….

Cara Agar Cepat Direkrut Agensi Asing (Bag. 2)

Baca artikel sebelumnya (bagian 1)….

Menambah Jam Terbang

Agensi asing sangat tertarik dengan pengalaman-pengalaman yang prestisius: pernah mengerjakan proyeknya Google, pernah mengerjakan proyeknya Microsoft, pernah mengerjakan proyeknya Facebook, pernah mengerjakan proyeknya Apple, dst. Tapi bagi penerjemah yang baru terjun ke industri penerjemahan, kesempatan menerjemahkan proyek-proyek prestisius seperti ini akan sangat susah didapat. Salah satu trik yang pernah (dan masih) saya lakukan adalah dengan terjun ke proyek-proyek crowd source seperti di Motaword, misalnya. Atau bergabung di Translated. Di sana ada beragam proyek penerjemahan UI game dan aplikasi iOS. Jadi meski tidak “langsung” dari Apple, ketika suatu agensi bertanya apakah saya pernah mengerjakan proyeknya Apple, akan saya jawab: “saya belum pernah mengerjakan proyeknya Apple, tapi saya sudah pernah mengerjakan terjemahan aplikasi-aplikasi iOS”.

Jumlah word count-nya memang tidak seberapa. Bahkan selalu di bawah seribu kata. Tapi cukup sebagai “pelengkap” di CV saya dan kadang menjadikan agensi cukup yakin untuk merekrut saya 🙂

Menerjemahkan artikel di Wikipedia juga bisa menjadi alternatif.

CV atau Service Offer?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang CV yang katanya tak lagi efektif untuk digunakan melamar ke suatu agensi. Silakan baca artikel dan komentar-komentarnya di sini. Read More

Cara Agar Cepat Direkrut Agensi Asing (Bag. 1)

Saya akan mengambil opening yang sama dengan apa yang dituliskan oleh Pak Ade Indarta (penerjemah senior HPI) di blog beliau, yaitu mengutip sebuah pertanyaan yang berbunyi: “Saya seorang pemula dalam dunia penerjemahan. Apakah karena saya seorang pemula saya harus menunggu lama untuk dapat proyek?”

Pertanyaan yang pernah dilempar di milis Bahtera ini juga pernah saya lempar ke mentor saya, sekitar 3 tahun yang lalu karena saya sudah bidding sana bidding sini tapi belum ada yang mau menggunakan jasa terjemahan saya. Tentu, jawaban mentor saya saat itu berbunyi: “kalau cuma menunggu, bisa selamanya kamu akan menunggu”.

Dan cita-cita saya saat itu adalah segera dipekerjakan oleh agensi asing. Selain bergengsi, nilai eksposurnya tinggi, tentu bayaran yang akan diterima juga bisa bikin senyum-senyum sendiri, kegirangan. Dengan catatan, word count-nya banyak dan harganya cocok 🙂

Maka, jika hanya dengan menunggu saya bisa menghabiskan waktu seumur hidup untuk dapat job, apa yang sebaiknya saya lakukan? Read More

From Zero to Zero until Be a Hero

Menyambung tulisan sebelumnya….

Bekal tambahan

Tak jarang, sebagai penerjemah lepas saya lebih banyak menganggur ketimbang benar-benar full dengan job-job penerjemahan sepanjang pekan. Waktu-waktu “luang” tersebut jika tidak dimanfaatkan dengan benar bisa menjadi bumerang, bom waktu, atau apapun istilahnya.

Terkadang, setelah semingguan mengerjakan 1-2 proyek penerjemahan, hati rasanya ingin berlibur, jalan-jalan, atau sekedar tidur seharian. Apalagi jika baru saja merampungkan sebuah proyek yang lumayan menguras tenaga dan pikiran atau baru saja melewati fase review yang alot 🙂

Waktu jeda menunggu proyek berikutnya kadang menjadi “zona nyaman” tersendiri, yang jika tidak disikapi dengan bijak bisa menjadikan saya merasa malas dan tidak produktif. Maka dari itu, sembari menunggu job berikutnya, biasanya saya “memancing” diri saya sendiri untuk terus aktif.

  1. Membaca. Membaca majalah, membaca jurnal online, membaca apa saja—termasuk membaca diary para penerjemah senior. Membaca adalah salah satu jalan untuk menambah dan memperbaharui wawasan yang memang wajib bagi seorang penerjemah. Tanpa banyak membaca, bisa-bisa saya ketinggalan banyak informasi. Padahal informasi itu sendiri adalah kunci untuk memasuki ruang-ruang (baca: peluang) baru. Artinya, dengan informasi yang saya miliki akan menjadikan saya cukup percaya diri ketika ada tawaran penerjemahan meski tidak ada background pendidikan di bidang tersebut. Misalnya (sekedar gambaran saja), dengan banyak membaca berita dan artikel otomotif, akan membuat saya cukup paham jika ada teks bidang otomotif meski latar belakang pendidikan saya bukan teknik otomotif.
  2. Menulis. Selain membaca, menulis juga perlu, terutama nge-blog. Karena dengan nge-blog, saya bisa menuangkan ide/gagasan saya, pemikiran dan pendapat saya, pengalaman saya, dan juga sebagai “bukti” apa yang menjadi perhatian saya selama ini (apa yang saya senangi).
  3. Voluntary translation. Banyak sekali proyek-proyek penerjemahan yang bersifat sukarela, tak berbayar, tak memiliki deadline, namun sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman dan memberi nilai eksposur. Sebut saja menerjemahkan Wikipedia, menerjemahkan plug-in WordPress, menerjemahkan situs atau modul pendidikan yang tidak berbayar, menerjemahkan UI aplikasi gratisan ataupun open-source, dsb.
  4. Berburu agensi. Ada ribuan agensi dengan berbagai “kelas” memposting job di berbagai forum seperti Proz, translatorscafe, translation directory, dsb. Namun, adakalanya mereka memposting job yang tidak bisa saya tangani (bukan bidang yang saya kuasai). Tapi, itu tidak mengapa. Mereka kadang secara berkala atau bahkan secara terus-menerus membutuhkan penerjemah freelance Artinya, tinggal saya kunjungi situs mereka, cari informasi tentang bagaimana menghubungi mereka, kemudian kirim surat penawaran diri untuk menjadi freelancer mereka. Biasanya, entah sebulan atau dua bulan kemudian, ada 1 atau 2 agensi yang menghubungi saya untuk menindaklanjuti e-mail penawaran saya.
  5. Belajar bahasa asing. Konon, belajar bahasa asing memberi manfaat yang luar biasa terhadap perkembangan dan kesehatan otak. Di samping itu, bisa juga membuka peluang baru di karir penerjemahan, yaitu bertambahnya language pair yang bisa kita tambahkan dalam service list

Kira-kira, apa lagi yang bisa menjadi bekal nge-freelance?

Bekal Menjadi Penerjemah Lepas

Pertama-tama, saya terinspirasi dan mengambil poin-poin penting artikel ini dari sini. Kedua, selamat membaca 🙂

Pendahuluan

Menjadi seorang penerjemah freelance adalah salah satu opsi yang sebelumnya tidak sempat terpikirkan, mengingat latar belakang pendidikan saya yang berada di luar urusan kebahasaan meski saya sangat menggandrungi dunia kepenulisan. Namun, meski masih banyak yang menganggap bahwa pekerjaan seorang freelance itu tidak tentu, tidak menjanjikan, sekedar “kerjaan” saat senggang, dan seterusnya, saya justru semakin total menggeluti bidang ini.

Freelancing is a demanding job dan punya deadline sama seperti pekerjaan full time (Sumber: blog sribu)

Ada beberapa hal yang saya jadikan “pegangan” ketika akhirnya saya memberanikan diri menggeluti dunia penerjemahan. Selain karena adanya informasi mengenai peluang “bekerja dari rumah”, juga ada kesempatan belajar banyak hal. Yang pada akhirnya, bagi saya pribadi, menjadi seorang penerjemah, khususnya penerjemah lepas, bukan melulu soal karir. Dan asyiknya, apa yang saya dan ribuan atau bahkan jutaan freelancer di luar sana rasakan, bisa di-“copy” oleh siapapun 🙂

6 Bekal Utama

Skill

Catatan: Ini berlaku saat saya bekerja untuk agensi asing sesuai pengalaman pribadi saya

Di dunia freelancing—termasuk di bidang penerjemahan profesional, ijazah bukan segalanya. Sejak awal saya terjun di dunia penerjemahan saya tidak pernah ditanya lulusan universitas apa, jurusannya apa, S1 atau S2 atau S3, dst. Memang, ijazah adalah semacam bukti validitas dan kemumpunian ilmu yang kita miliki, tapi di dunia freelancing secara umum, itu bukan segalanya. Seorang freelancer hanya akan dinilai dari kapabilitasnya secara nyata. Read More

Daily Output Problems

Seminggu yang lalu saya membaca artikel tentang kemungkinan seorang penerjemah untuk melakukan terjemahan hingga 1.000 kata per jam di sini. Agak kaget juga, mengingat jumlah seribu kata per jam itu ternyata dinyatakan “sangat memungkinkan”. Tapi, apa benar?

“Normal” daily output

Berbicara mengenai produktivitas harian, sejatinya tidak ada patokan resmi mengenai berapa banyak kata yang harus seorang penerjemah hasilkan per hari atau per jam. Beberapa orang mungkin “merekomendasikan” antara 2.000-3.000 kata per hari, dengan asumsi 8 jam waktu kerja. Bahkan, mungkin ada yang standarnya lebih rendah atau malah lebih tinggi dari 2.000-3.000 kata per harinya. Tentu, hitung-hitungan soal output harian dipengaruhi banyak faktor seperti kompleksitas dokumen, penguasaan terhadap materi yang akan diterjemahkan, banyak-tidaknya repetisi dan fuzzy match, dll. Bahkan faktor teknis seperti kapabilitas perangkat komputer yang digunakan untuk menjalankan CAT tools juga tidak bisa dikesampingkan. Semakin bertenaga komputer yang kita miliki, maka akan semakin menunjang produktivitas kita.

Menurut artikel yang saya baca pada artikel di atas, “patokan” 2.000-3.000 kata per hari disinyalir muncul pada era pra-CAT tools, yang artinya proses penerjemahan masih 100% tradisional dan manual. Era di mana translation memory dan termbase “belum bisa” diintegrasikan secara otomatis dan sistematis. Maka bisa dibayangkan, bagaimana “ribetnya” menjaga konsistensi penerjemahan kala itu, kan?

Nah, sekarang, di era CAT tools, proses penerjemahan bisa dibilang hampir 100% otomatis, apalagi beberapa CAT tools memiliki kemampuan untuk dapat terintegrasi dengan mesin penerjemah—meski untuk urusan kualitas, masih tetap memerlukan campur tangan manusia. Maka “idealnya” kapasitas harian seorang penerjemah memang sudah selayaknya meningkat.

Secara teori, jika 1 jam = 1.000 kata, maka 8 jam kerja sehari = 8.000 kata. Itu secara teori. Pada kenyataanya, selama 8 jam kerja, kita tidak mungkin 8 jam nonstop di depan layar monitor. Kita butuh 1 atau 2 jam istirahat. Belum lagi beberapa faktor di atas (kompleksitas dan penguasaan materi, jumlah fuzzy match, performa komputer, dst.), juga tidak sedikit pengaruhnya. Lalu? Read More

Meretas Karir Penerjemahan Dari Wikipedia

Masih bingung, di mana tempatnya belajar menjadi penerjemah?

Di beberapa kesempatan, saya pernah ditanya oleh satu atau dua orang di lingkaran pertemanan saya tentang bagaimana dan di mana saya belajar menjadi penerjemah. Di mana ya, kita bisa belajar menerjemahkan dan/atau menjajal kemampuan menerjemahkan kita?

Salah satu tempat yang paling pas untuk belajar menjadi penerjemah, menurut saya adalah di Wikipedia. Ada ribuan artikel ilmiah berbahasa Inggris yang perlu diterjemahkan ke bahasa lain di seluruh dunia. Tak terkecuali ke bahasa Indonesia. Buaanyak sekali. Jadi, kenapa tidak mulai dari Wikipedia saja?

Karena Wikipedia merupakan proyek “keroyokan”, maka menerjemahkan artikel di Wikipedia sebagai sarana “latihan” memiliki beberapa keuntungan, di antaranya:

  1. Ada puluhan bahkan ratusan, atau malah mungkin ribuan topik yang siap diterjemahkan. Kita bisa memilih artikel dari hal-hal yang kita kuasai atau kita sukai terlebih dahulu.
  2. Kita bisa menerjemahkan artikel apapun semampu kita. Katakanlah artikel aslinya memiliki 20 paragraf, tapi kita hanya mampu menerjemahkan separuhnya dulu. Tidak mengapa. Akan ada orang yang berbaik hati melengkapi terjemahan tersebut, plus “memperbaiki” terjemahan kita jika ada yang kurang tepat/salah terjemahan.
  3. Tidak ada batasan waktu. Kerjakan sesempatnya saja, it’s OK.

Proses penerjemahan di Wikipedia

Proses menerjemahkan artikel di Wikipedia sangatlah simpel. Intinya, kita tinggal daftar jadi kontributor, pilih artikel yang hendak diterjemahkan, dan mulai menerjemahkan!

Memang ada beberapa “aturan” dalam proses penerjemahan di Wikipedia, di antaranya tidak boleh menggunakan terjemahan mesin (Google Translate atau semacamnya)—yang pada dunia penerjemahan profesional hal ini juga sangat dilarang keras—dan jangan menerjemahkan kata per kata. Lengkapnya, silakan baca di sini.

Oke, kembali ke “prosedur” penerjemahan artikel di Wikipedia.

Jadi, setelah mendaftar dan/atau login ke dasbor-nya Wikipedia, langkah selanjutnya adalah masuk ke menu Kontribusi – Terjemahan.

Mengakses menu "Terjemahan"

Mengakses menu “Terjemahan”

Selanjutnya, akan ada pilihan seperti pada gambar berikut:

Memilih artikel untuk diterjemahkan

Memilih artikel untuk diterjemahkan

Nah, sudah tahu arah selanjutnya, kan? 🙂

Bagaimana jika artikel yang “disarankan” oleh Wikipedia tidak menarik bagi saya? Silakan scroll terus ke bawah sampai menemukan opsi Refresh suggestions.

Beberapa artikel di Wikipedia yang belum diterjemahkan biasanya “menawarkan diri” untuk diterjemahkan. Misalnya artikel Tap and die yang belum memiliki versi bahasa Indonesia-nya.

Terjemahan versi bahasa Indonesia, Jawa, dan Melayu belum tersedia

Terjemahan versi bahasa Indonesia, Jawa, dan Melayu belum tersedia

Pada panel menu di sisi kiri, opsi bahasa Indonesia berwarna abu-abu, yang artinya belum ada terjemahan versi bahasa Indonesia-nya. Jika kita berkenan menerjemahkannya, kita tinggal klik tautan Bahasa Indonesia tersebut. Maka kemudian kita akan dibawa ke halaman penerjemahan dan artikel pun siap diterjemahkan.

Investasi CAT Tools Di Awal Karir Penerjemahan

Menyambung sekelumit cerita sebelumnya tentang bagaimana menjadi experienced translator yang diburu oleh klien dan agensi….

Akhirnya ketika saya berproses dalam karir penerjemahan, saya bukan hanya ditantang untuk fasih berbahasa, tapi juga melek teknologi informasi. Soalnya, dunia penerjemahan profesional menuntut saya—salah satunya—untuk berhadapan dengan beragam software yang bahkan sama sekali tidak pernah saya dengar di bangku kuliah. Ya, saya bisa memastikan bahwa saya mengenal beragam varian sistem operasi, perangkat lunak office, perangkat lunak desain grafis, perangkat lunak animasi, perangkat lunak authoring, perangkat lunak utility, dan sebagainya. Tapi saya tidak tahu-menahu soal CAT tools!

Hingga akhirnya saya harus mencicipi CAT tools satu per satu. Beberapa di antaranya saya pelajari sambil mengerjakan proyek kecil-kecilan dan beberapa lainnya saya pelajari sambil menunggu tawaran job mampir ke e-mail saya.

Apa Itu CAT tool

Bagi pembaca yang sedang mempelajari soal penerjemahan dan ingin mengenal CAT tool, silakan baca salah satu e-book mengenai “introduction to CAT tool” terbitan memoQ di sini. Read More