Lupakan GroupShare, Beralihlah Ke Matecat

Alternatif SDL GroupShare

Sekitar awal Juli lalu, saat saya mendapat tawaran untuk mengerjakan suatu proyek penerjemahan game bervolume besar dan harus dikerjakan secara tim, saya sempat berpikir untuk menggunakan suatu platform yang memungkinkan saya dan tim untuk menggunakan satu TM yang sama. Mengapa harus menggunakan TM yang sama? Read More

Inilah Alasan Mengapa Hasil Terjemahan Game Sering “Ngawur” (Bag. 1)

“Ih, terjemahan game-nya ngaco!”

“Ngawur nih, nggak sesuai sama versi aslinya.”

“Buset, nama jurusnya lucu. Siapa sih yang nerjemahin? Mending versi Inggrisnya.”

Sebelum menggeluti dunia penerjemahan, entah sekali atau dua kali saya pasti pernah mengucapkan salah satu dari tiga kalimat di atas. Atau bahkan, malah semuanya sudah pernah saya ucapkan! Sekali lagi, itu dulu ya, sebelum saya terjun di industri penerjemahan profesional dan belum merasakan “beratnya” tugas seorang penerjemah. Read More

Kendala Dalam Penerjemahan Game

Rune items. Sumber: https://forum.treeofsavior.com/t/ktos-general-thread-keep-all-in-game-discussion-here/125464/2047

Rune items. Sumber: https://forum.treeofsavior.com/t/ktos-general-thread-keep-all-in-game-discussion-here/125464/2047

Menyambung sekelumit cerita sebelumnya ….

Game, entah dalam kadar berapa persen adalah representasi dari imajinasi sang pembuatnya. Maka tidak seperti novel misalnya (kecuali novel fiksi ilmiah mungkin), penerjemahan transkrip game memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Entah itu game PC, entah itu game untuk perangkat bergerak (mobile devices). Contohnya saja adalah menerjemahkan nama item dan skill yang hampir merupakan “rutinitas” tak terpisahkan dari proyek penerjemahan game. Bagi para penikmat game, nama item dan skill tentu lebih asyik jika keduanya tetap dalam bahasa aslinya. Selain karena sudah lazim didengar, juga tampak “sakti”.

Namun bagi para penerjemah, apalagi bagi saya yang masih tergolong pendatang baru, menerjemahkan game—atau lebih pas disebut pelokalan game (game localization)—kadang menimbulkan dilema. Read More

Tantangan Di Hari Pertama Saya Terjun Ke Industri Penerjemahan

Ilustrasi game pada Android. Kiri: One for Eleven (sumber: koleksi pribadi), tengah: OnionKnight (sumber: koleksi pribadi), kanan: Clash of Clans (sumber: http://cocland.com/tutorials/create-clash-clans-private-server)

Ilustrasi: game pada Android. Kiri: One for Eleven (sumber: koleksi pribadi), tengah: OnionKnight (sumber: koleksi pribadi), kanan: Clash of Clans (sumber: http://cocland.com/tutorials/create-clash-clans-private-server)

Siapa tak suka bermain game? Saya pikir, hampir semua orang suka bermain game. Mulai dari permainan di Play Station, komputer, smartphone, atau bahkan di handphone yang belum termasuk golongan smartphone. Mulai dari sekedar bermain untuk mengisi waktu luang hingga bermain untuk tujuan yang lebih “keren”—menjadi gamer profesional. Saya juga suka bermain game, meski hanya ada beberapa game-game ringan saja yang biasa saya mainkan di PC atau di smartphone.

Bicara soal game, ternyata bukan hanya bermain game saja yang asyik, tapi menerjemahkan transkrip game juga tak kalah asyik. Pertama kalinya saya bersentuhan dengan penerjemahan transkrip game adalah 2 tahun lalu. Sebenarnya itu adalah project yang sedikit “melenceng” dari rencana saya. Karena sebelum project itu turun, sebenarnya saya melamar pada sebuah agensi penerjemahan untuk posisi penerjemah UI aplikasi utility komputer.

Oke, kembali pada asyiknya menerjemahkan transkrip game. Game pertama yang saya terjemahkan kebetulan adalah game ber-genre RPG untuk Android. Sebagai job pertama, apalagi dengan word count cukup banyak untuk ukuran 100% pemula, hal tersebut sangatlah mendebarkan. Bukan hanya soal ketakutan apakah bisa selesai sebelum deadline atau tidak, tetapi juga ada banyak sekali hal yang sama sekali masih terlampau baru untuk saya. Ada banyak permintaan dan ketentuan dari klien. Sebut saja nama item dan skill (jurus). Klien—melalui agensi—meminta agar sebisa mungkin nama item dan skill dilokalkan. Tentu, entah itu pemula ataupun penerjemah senior, kalau sering berurusan dengan game tentu akan merasa lebih sreg jika nama item dan skill tetap dalam versi aslinya.

Maka sayapun merasa sangat tertantang. Bagaimana kata “rune” harus saya terjemahkan, apalagi jika jumlah karakternya dibatasi? Bagaimana saya menerjemahkan “Alignment Dungeon”? Bagaimana saya menemukan nuansa percakapan yang pas antara 2 hero yang tengah saling berhadapan di medan pertempuran agar terjemahan tidak hilang feel-nya? Dan seterusnya.

Sebagai seorang pemula, hal-hal baru semacam itu benar-benar cukup membuat saya panas-dingin. Untung saja, hingga akhir proses penerjemahan bahkan sampai proses review, saya tidak terlalu banyak mendapatkan komplain. Sungguh sebuah keberuntungan!

Lalu, sebenarnya bagaimana saya bisa melewati tantangan hari pertama saya di dunia penerjemahan tersebut? Read More