Menyambung tulisan sebelumnya….

Bekal tambahan

Tak jarang, sebagai penerjemah lepas saya lebih banyak menganggur ketimbang benar-benar full dengan job-job penerjemahan sepanjang pekan. Waktu-waktu “luang” tersebut jika tidak dimanfaatkan dengan benar bisa menjadi bumerang, bom waktu, atau apapun istilahnya.

Terkadang, setelah semingguan mengerjakan 1-2 proyek penerjemahan, hati rasanya ingin berlibur, jalan-jalan, atau sekedar tidur seharian. Apalagi jika baru saja merampungkan sebuah proyek yang lumayan menguras tenaga dan pikiran atau baru saja melewati fase review yang alot 🙂

Waktu jeda menunggu proyek berikutnya kadang menjadi “zona nyaman” tersendiri, yang jika tidak disikapi dengan bijak bisa menjadikan saya merasa malas dan tidak produktif. Maka dari itu, sembari menunggu job berikutnya, biasanya saya “memancing” diri saya sendiri untuk terus aktif.

  1. Membaca. Membaca majalah, membaca jurnal online, membaca apa saja—termasuk membaca diary para penerjemah senior. Membaca adalah salah satu jalan untuk menambah dan memperbaharui wawasan yang memang wajib bagi seorang penerjemah. Tanpa banyak membaca, bisa-bisa saya ketinggalan banyak informasi. Padahal informasi itu sendiri adalah kunci untuk memasuki ruang-ruang (baca: peluang) baru. Artinya, dengan informasi yang saya miliki akan menjadikan saya cukup percaya diri ketika ada tawaran penerjemahan meski tidak ada background pendidikan di bidang tersebut. Misalnya (sekedar gambaran saja), dengan banyak membaca berita dan artikel otomotif, akan membuat saya cukup paham jika ada teks bidang otomotif meski latar belakang pendidikan saya bukan teknik otomotif.
  2. Menulis. Selain membaca, menulis juga perlu, terutama nge-blog. Karena dengan nge-blog, saya bisa menuangkan ide/gagasan saya, pemikiran dan pendapat saya, pengalaman saya, dan juga sebagai “bukti” apa yang menjadi perhatian saya selama ini (apa yang saya senangi).
  3. Voluntary translation. Banyak sekali proyek-proyek penerjemahan yang bersifat sukarela, tak berbayar, tak memiliki deadline, namun sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman dan memberi nilai eksposur. Sebut saja menerjemahkan Wikipedia, menerjemahkan plug-in WordPress, menerjemahkan situs atau modul pendidikan yang tidak berbayar, menerjemahkan UI aplikasi gratisan ataupun open-source, dsb.
  4. Berburu agensi. Ada ribuan agensi dengan berbagai “kelas” memposting job di berbagai forum seperti Proz, translatorscafe, translation directory, dsb. Namun, adakalanya mereka memposting job yang tidak bisa saya tangani (bukan bidang yang saya kuasai). Tapi, itu tidak mengapa. Mereka kadang secara berkala atau bahkan secara terus-menerus membutuhkan penerjemah freelance Artinya, tinggal saya kunjungi situs mereka, cari informasi tentang bagaimana menghubungi mereka, kemudian kirim surat penawaran diri untuk menjadi freelancer mereka. Biasanya, entah sebulan atau dua bulan kemudian, ada 1 atau 2 agensi yang menghubungi saya untuk menindaklanjuti e-mail penawaran saya.
  5. Belajar bahasa asing. Konon, belajar bahasa asing memberi manfaat yang luar biasa terhadap perkembangan dan kesehatan otak. Di samping itu, bisa juga membuka peluang baru di karir penerjemahan, yaitu bertambahnya language pair yang bisa kita tambahkan dalam service list

Kira-kira, apa lagi yang bisa menjadi bekal nge-freelance?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.