Dari mana kita harus mengawali?

Tergantung dengan apa kita hendak menampilkan diri kita ke khalayak. Apakah menggunakan Facebook, LinkedIn, Instagram, Twitter, atau yang lainnya. Masing-masing media tersebut memiliki karakter sendiri. Kalau saya pribadi mengawalinya di LinkedIn dengan ikut tantangan #linkedin30. Seperti yang telah saya sebutkan di artikel pertama saya, sebelumnya saya hanya menjadi “pengunjung” musiman di LinkedIn. Kemudian, ketika saya melihat adanya #linkedin30 challenge, saya memutuskan untuk ikut serta dan hasilnya saya “ketagihan” untuk tampil di LinkedIn.

Tantangan #linkedin30 yang digagas oleh Melisa Palferro.

Saya yakin trik ini juga bisa digunakan di media sosial lain. Karena pada dasarnya, inti dari ide semacam ini adalah latihan pemasaran itu sendiri—tahu, kan, kalau pemasaran adalah “hambatan” terbesar para freelancer? Dan tidak harus Anda sendirian yang memulai, tapi bisa “rombongan” dengan mengajak teman-teman dan koneksi Anda supaya promosi/kampanye pemasaran Anda bisa meluas dan menjangkau lebih banyak audiens.

Apa yang harus kita posting?

Di #linkedin30, kami memiliki jadwal (lihat gambar kalender #linkedin30 di atas). Misalnya setiap hari Senin kami membahas kutipan yang menginspirasi, lalu hari Selasa membahas pengalaman baik/buruk dan berdiskusi tentang suatu masalah, dst. Oleh karena itu semua peserta akan dengan “tertib” memposting tulisan dengan tema yang sama sehingga mudah untuk berdiskusi karena ada keseragaman tema setiap harinya. Dan kita juga jadi bisa belajar dari pengalaman orang lain dari sudut pandang yang berbeda meski topiknya sama.

Apakah kita tidak akan kehabisan ide untuk diposting?

Kehabisan ide adalah sebuah keniscayaan. Tapi dengan banyaknya peserta tantangan semacam #linkedin30 ini, saya yakin tidak akan begitu saja kehabisan ide. Jika kita peka, maka kita bisa menangkap banyak ide baru yang kemudian bisa kita jadikan bahan postingan selanjutnya. Atau, bisa saja kita posting ulang tulisan orang lain yang sesuai dengan topik hari itu. Tidak mesti harus hasil pemikiran atau pendapat pribadi 🙂

Oh iya, harap diingat, trik semacam ini tidak harus di LinkedIn ya. Bisa di Facebook atau media sosial lainnya.

Lalu setelah aktif dengan “kehadiran daring”, apa kita lantas meninggalkan “profil daring” kita?

Oh tentu tidak. Justru kehadiran daring kita akan sangat membantu profil daring kita, karena seperti yang saya sebutkan di tulisan pertama saya, bahwa profil belum tentu bisa berbicara banyak meski isinya sarat informasi. Tetapi kehadiran kita-lah yang akan mengungkap siapa kita, kapasitas kita, fokus kita, dsb. Sama seperti ketika kita melamar pekerjaan, di mana CV kita sebenarnya sudah dijejali informasi penting tapi tetap harus diwawancarai untuk mengungkap siapa kita sebenarnya.

Jika rekan-rekan pembaca memiliki ide tersendiri, silakan bagikan di kolom komentar ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.