Kekuatan Berjejaring

Banyak yang setuju jika berjejaring itu membawa banyak manfaat. Tapi tak sedikit pula orang yang merasa tidak “pandai” berjejaring, misalnya karena introvert. Atau kalau di dunia maya, karena merasa tidak tahu atau bingung dengan apa yang harus dipublikasikan.

Sepanjang saya mengikuti tantangan #linkedin30 di LinkedIn, banyak yang akhirnya mengakui terbantu oleh tantangan ini. Sebelumnya, mereka canggung jika hendak memublikasikan sesuatu. Tapi dengan tantangan ini, mereka jadi lebih terbuka. Jadi kalau Anda belum terbiasa melakukan komunikasi aktif dengan koneksi Anda dan ragu untuk membuat posting rutin (tidak harus di LinkedIn), Anda bisa memulai dengan mencontek konsep #linkedin30: buat jadwal posting dengan tema berbeda setiap harinya, lalu ajak orang lain terlibat di dalamnya misalnya dengan tag dan mention.

Bahkan kalau saya lihat, tanpa adanya tantangan semacam #linkedin30 pun, banyak koneksi saya yang tingkat interaksinya dengan banyak orang sangat tinggi. Itu karena mereka rajin berbagi hal-hal positif dan tidak ragu untuk terlibat dengan postingan orang lain.

Hasilnya?

Banyak peluang baru berdatangan. Banyak ilmu baru yang didapat. Banyak teman-teman baru yang siap memberi masukan dan dukungan.

Nah, karena manfaat yang dirasakan inilah, di komunitas #linkedin30 muncul tagar baru yaitu #litranslators untuk “mengikat” para penerjemah yang aktif di LinkedIn dalam satu wadah agar terus terhubung, termotivasi, terinspirasi, dan terus menikmati keuntungan dalam berjejaring. Plus, agar yang sebelumnya belum sempat ikut #linkedin30 dapat segera bergabung dan merasakan manfaatnya.

Berapa lama kita harus aktif di media sosial atau ikut tantangan?

Aktif di media sosial artinya aktif memasarkan diri. Jadi, berapa lama kita harus aktif di media sosial agar peluang-peluang baru terus bermunculan? Tentu saja kita harus selalu aktif. Tidak ada batasan waktu. Selama media sosial masih ada, maka selama itu pula kita harus aktif menggunakannya sebagai alat bantu pemasaran.

Soal ikut tantangan semacam #linkedin30 yang berulang kali saya sebut di atas dan di artikel sebelumnya (bag. 1 dan bag. 2), itu bersifat opsional. Tidak harus ada dan tidak harus ikut tantangan semacam itu. Lagipula itu hanya alat untuk “memancing” kita agar lebih aktif menggunakan media sosial (yang kebetulan dalam contoh saya adalah LinkedIn). Yang paling penting adalah kita aktif untuk menarik perhatian calon klien dan calon mitra (agensi).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.