Mengenal Istilah-istilah Bidang Penerjemahan

Ada banyak sekali istilah di industri penerjemahan yang harus kita pahami, khususnya jika kita bekerja sama dengan agensi penerjemahan asing. Selain kata “deadline” alias batas waktu penyerahan kembali teks terjemahan, ada banyak sekali istilah lain yang harus dimengerti karena biasanya kita akan berkomunikasi dengan agensi menggunakan istilah-istilah tersebut.

Nah, bagi rekan-rekan pembaca yang hendak terjun ke dunia penerjemahan, barangkali perlu mengenal istilah-istilah dalam dunia penerjemahan sekadar sebagai tambahan pengetahuan. Daftar berikut saya susun menurut abjad berdasarkan pengalaman saya berhubungan dengan agensi asing dan barangkali belum semuanya saya tuliskan. Bagi yang berkenan untuk menambahkan istilah atau menjumpai ketidaktepatan definisi yang saya sajikan, silakan tinggalkan masukan di kolom komentar agar daftar di bawah ini bisa saya perbarui lagi isinya. Read More

Berani Menentang Tarif Rendah (Bag. 2)

Pada artikel sebelumnya, sudah kita lihat 2 faktor pertama yang bisa digunakan untuk menentukan besarnya tarif terjemahan. Nah, 2 faktor berikut juga tidak kalah penting untuk dipertimbangkan. Selamat membaca 🙂

Kesulitan pekerjaan yang tidak terduga

Selalu periksa atau minta diperlihatkan dokumen yang hendak dikerjakan, untuk memperkirakan tingkat kesulitannya. Kadang, walaupun sudah biasa mengerjakan teks berlabel “general”, antara apa yang dibayangkan dengan apa yang dihadapi bisa benar-benar berbeda. Jika ternyata dokumen tersebut “sulit” atau akan memakan waktu lebih lama dari tenggat yang diajukan klien, negosiasikan kembali tarif atau tenggatnya. Sama seperti poin di atas, pertimbangkan hal-hal yang berpotensi tidak dibayar. Jangan sampai kita mengerjakan teks yang “lebih sulit” dari biasanya, namun dengan bayaran yang sama. Apalagi jika yang akan dikerjakan merupakan pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang tertentu alias spesialis, maka tidak boleh disamakan dengan tarif terjemahan yang bisa dikerjakan oleh siapa pun.

Teks yang susah diterjemahkan

Teks susah diterjemahkan, kadang datang tiba-tiba. Sumber dan hak cipta gambar: https://goo.gl/mVQN7x

Kesulitan lain yang mungkin dihadapi: kita harus mengonversi sendiri format file yang dikirim klien agar dapat dibuka dan dibaca di CAT tool kita lalu mengonversi kembali ke format file yang diminta atau dapat dibaca klien, mengonversi atau mengetik ulang hasil pindai OCR, dll. Pastikan untuk pekerjaan seperti ini dikenakan tarif tambahan.

Jangan tergiur proyek bervolume besar, kecuali…

Volume besar itu menyenangkan, tapi berisiko. Seringnya, pekerjaan dengan volume besar menuntut kita untuk mau dibayar murah. Biasanya, kalau dapat job dari agensi, agensi akan meminta kita menurunkan tarif atau rate karena ini proyek besar atau proyek jangka panjang. Misalnya tarif kita sebesar 0.05 USD per kata, maka agensi mungkin akan meminta kita menurunkannya menjadi 0.035 USD atau 0.04 USD per kata.

Perlukah kita menurunkan tarif kita?

Berani Menentang Tarif Rendah (Bag. 1)

Tarif rendah, siapa yang mau? Banyak 🙂

Tapi, tarif rendah untuk terjemahan berkualitas, barangkali banyak penerjemah yang enggan menerimanya. Saya, yang masih sangat baru di industri penerjemahan saja, malas menerima tarif yang terlalu rendah, katakanlah di bawah 0.05 USD per kata.

tarif rendah penerjemah

Tarif rendah? Tunggu dulu. Sumber dan hak cipta gambar: https://goo.gl/xfsBdg

Saya percaya bahwa menerjemahkan adalah pekerjaan intelektual sekaligus seni, tidak sepantasnya dibayar dengan harga yang murah. Tapi, berapa besaran yang valid untuk menilai dan mengukur tinggi-rendahnya atau murah-tidaknya harga terjemahan kita?

Ada beberapa hal yang saya dapat dari mentor saya dan berbagai sumber daring lainnya mengenai cara menentukan besaran tarif terjemahan dalam konteks sebagai penerjemah lepas dan mengapa kita harus berani menolak tarif rendah, yaitu:

Pendapatan per bulan yang diinginkan

Besaran tarif bisa dihitung berdasarkan pemasukan yang diiinginkan tiap bulan, misal 10 juta per bulan. Untuk menghasilkan 10 juta per bulan, berapa proyek yang harus atau sanggup dikerjakan dalam sebulan? Atau lebih spesifik, berapa ribu kata yang bisa ditangani per hari agar menghasilkan 10 juta per bulan dengan 5 hari kerja dalam seminggu dan 8 jam kerja per hari?

Jika dalam satu hari kerja kita mampu menerjemahkan 2.500 kata, artinya dalam 5 hari kerja kita bisa menerjemahkan hingga 12.500 kata. Katakanlah dalam satu bulan kita memiliki hari efektif kerja sebanyak 20 hari. Artinya, dalam 20 hari idealnya kita mampu menerjemahkan sebanyak 50.000 kata. Lalu, untuk mendapat 10 juta per bulan, tinggal dibagi saja, yaitu 10 juta dibagi 50.000 kata. Hasil akhirnya adalah 200 rupiah per kata.

Hmm, kecil sekali ya? Ya, ini hanya contoh perhitungan secara kasar. Coba kurangi jumlah kata yang mampu kita terjemahkan dalam sebulan, karena tidak mungkin, kan, selama 20 hari penuh kita mengerjakan sebegitu banyaknya? Ya, sebenarnya sih mungkin saja. Misalnya ini proyek besar dengan banyak fuzzy atau context match-nya.

Juga harus diperhitungkan, bahwa sebagai penerjemah lepas, ada kalanya sepi job. Katakanlah dengan target 50.000 kata untuk 10 juta per bulan, maka perlu usaha yang ekstra keras. Oleh karenanya, harus dipikirkan besaran tarif yang tepat untuk jumlah pekerjaan yang lebih sedikit (kurangi target jumlah kata, naikkan tarif). Misalnya naikkan menjadi 500 rupiah per kata. Maka beban target kerja kita sebulan jadi berkurang menjadi 20.000 kata saja. Saya ulangi, ini hanya gambaran hitung-hitungan kasar.

Silakan baca: acuan tarif terjemahan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)

Penghasilan Kategori “Sukses”

Berapa jumlah penghasilan penerjemah yang dianggap sebagai “sukses”? 5 – 10 juta per bulan? 10 – 15 juta per bulan? 15 – 20 juta per bulan? Atau di atas 25 – 30 juta per bulan?

Pertanyaan tersebut di atas konon dilontarkan oleh Pak Eddie Notowidigdo pada kursus penerjemahan yang diselenggarakan HPI di tahun 2009 lalu, dan “diceritakan” kembali oleh Mba Dina Begum di sini.

Sebenarnya, saya tidak tertarik membahas nominal “penanda” kesuksesannya, karena sifatnya sangat relatif. Tapi saya tertarik sekali untuk membahas bagaimana atau proses agar saya bisa sampai ke sana (ke 25 atau 30 juta rupiah per bulan). Mungkinkah seorang penerjemah sampai ke sana, dan bagaimana caranya?

Menjadi penerjemah yang sukses

Menuju penerjemah yang sukses secara finansial. Sumber dan hak cipta gambar: jtanki / 123RF Stock Photo

Menurut Pak Eddie (dalam artikel yang diceritakan oleh Mba Dina tadi), sangat mungkin seorang penerjemah sampai ke angka fantastis tersebut di atas. Syaratnya: pengetahuan dan keterampilan, profesionalisme, sarana dan prasarana, networking, serta upaya pemasaran dan promosi.

Saya setuju dengan pendapat Pak Eddie tersebut. Secara pribadi, saya sudah dan masih menjalani hampir semua hal di atas meski saat ini saya belum memanen hasil maksimalnya. Saya dituntut menguasai teks A dan B, saya dituntut untuk mampu mengoperasikan CAT tool C dan D, saya dituntut untuk bekerja secara professional, saya diminta untuk memiliki sarana penunjang, dan seterusnya. Beberapa hal mungkin bisa saya uraikan sebagai berikut:

Oleh-oleh Workshop Penerjemahan Di UMP (Bag. 3 – Selesai)

Workshop penerjemahan dan interpreting yang diadakan oleh Pusat Bahasa UMP sejatinya dilakukan selama dua hari, yaitu tanggal 23-24 Juli 2016. Hari pertama dikhususkan untuk workshop penerjemahan, dan hari kedua dikhususkan untuk interpreting.

Sebenarnya, di penghujung sesi hari pertama workhsop Pak Dewa sempat memberi sedikit gambaran materi untuk hari kedua atau materi interpreting. Beliau sempat memberikan semacam introduction mengenai dunia interpreting dan bahkan dengan bantuan mahasiswa UMP beliau sempat mendemonstrasikan proses atau simulasi interpreting.

Sayangnya, hari kedua saya tidak bisa ikut. Tapi untungnya, saya bisa menghubungi beliau lewat e-mail untuk mengorek sedikit tentang dunia interpreting. Read More

Oleh-oleh Workshop Penerjemahan Di UMP (Bag. 2)

Masih soal oleh-oleh workshop penerjemahan di UMP yang dipandu oleh Pak Dewantoro Ratri. Silakan baca bagian 1 di sini.

Dari mana belajar menerjemahkan itu?

Pak Dewa menjelaskan, bahwa penerjemahan erat kaitannya dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar, sesuai kaidah-kaidah penggunaan bahasa yang bersangkutan. Artinya, tidak akan ada penerjemahan (yang baik) kalau tidak menguasai aturan atau kaidah penggunaan bahasa yang benar. Singkatnya, jika ingin bisa menerjemahkan, maka harus benar-benar menguasai pasangan bahasa yang hendak dikerjakan. Jadi, jika ingin menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (misalnya), maka cintai, pelajari, dan dalami bahasa Indonesia. Pelajari bagaimana bahasa Indonesia yang baku, bagaimana kalimat yang efektif, kenali betul-betul konsep nomina, verba, adjektiva, dan seterusnya.

translation workshop

Pak Dewa (berdiri) sedang menyampaikan materi. (Dok. LDC UMP)

Selanjutnya, Pak Dewa juga menceritakan bagaimana beliau mengajari siswa-siswinya sedini mungkin agar bisa menerjemahkan teks dengan benar. Kuncinya adalah berlatih dengan kalimat pendek dan sederhana, kemudian tingkatkan tingkat kesulitannya secara bertahap. Dalam workshop penerjemahan ini, Pak Dewa bahkan membagikan modul latihan menerjemahkan untuk siswa-siswinya yang masih SMP kepada para peserta workshop. SMP? Ya, belajar menerjemahkan harus diawali sedini mungkin, bukan hanya dari semester sekian di bangku kuliah, tapi sedini mungkin, sebisa mungkin sejak pertama kali anak-anak dikenalkan dengan bahasa Inggris. Bukan semata-mata untuk mempersiapkan siswa-siswinya menggeluti profesi penerjemahan, tapi demi mencapai tujuan pembelajaran bahasa—mampu berkomunikasi dengan baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan yang berlaku—yang tentu akan sangat mendukung profesi penerjemahan jika siswa-siswinya memang ada yang bercita-cita menjadi penerjemah.

AntWordProfiler dan AntConc

Selain kamus, baik kamus konvensional maupun kamus digital dan kamus online, serta CAT tools, penerjemah juga perlu dipersenjatai perangkat lunak lain, misalnya AntWordprofiler dan AntConc.

Singkatnya, kedua aplikasi ini adalah aplikasi yang dapat kita gunakan untuk menganalisa dan memetakan profil kosakata serta mengukur kompleksitas teks dan frekuensi munculnya suatu kata dalam sebuah teks. Dalam konteks penerjemahan, suatu kata yang muncul berulang-ulang akan membuat teks menjadi terkesan menjenuhkan. Oleh karenanya, perlu adanya variasi kata. Nah, dengan digunakannya kedua perangkat lunak ini secara tandem, kita akan mengetahui kata apa saja yang muncul berulang-ulang dan perlu kita carikan padanan kata yang lain atau sinonimnya, agar teks tidak terkesan membosankan.

Unduh AntWordProfiler di sini dan AntConc di sini.

Dalam workshop ini, Pak Dewa juga mendemonstrasikan penggunaan kedua perangkat lunak tersebut di atas, khususnya untuk penerjemahan teks akademik seperti skripsi dan tesis. Beliau juga mendemonstrasikan penggunaan kedua perangkat lunak tersebut bersamaan dengan kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary versi digital untuk menganalisa keberadaan academic words pada suatu tulisan karya ilmiah.

Bersambung….

Cara Agar Cepat Direkrut Agensi Asing (Bag. 2)

Baca artikel sebelumnya (bagian 1)….

Menambah Jam Terbang

Agensi asing sangat tertarik dengan pengalaman-pengalaman yang prestisius: pernah mengerjakan proyeknya Google, pernah mengerjakan proyeknya Microsoft, pernah mengerjakan proyeknya Facebook, pernah mengerjakan proyeknya Apple, dst. Tapi bagi penerjemah yang baru terjun ke industri penerjemahan, kesempatan menerjemahkan proyek-proyek prestisius seperti ini akan sangat susah didapat. Salah satu trik yang pernah (dan masih) saya lakukan adalah dengan terjun ke proyek-proyek crowd source seperti di Motaword, misalnya. Atau bergabung di Translated. Di sana ada beragam proyek penerjemahan UI game dan aplikasi iOS. Jadi meski tidak “langsung” dari Apple, ketika suatu agensi bertanya apakah saya pernah mengerjakan proyeknya Apple, akan saya jawab: “saya belum pernah mengerjakan proyeknya Apple, tapi saya sudah pernah mengerjakan terjemahan aplikasi-aplikasi iOS”.

Jumlah word count-nya memang tidak seberapa. Bahkan selalu di bawah seribu kata. Tapi cukup sebagai “pelengkap” di CV saya dan kadang menjadikan agensi cukup yakin untuk merekrut saya 🙂

Menerjemahkan artikel di Wikipedia juga bisa menjadi alternatif.

CV atau Service Offer?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang CV yang katanya tak lagi efektif untuk digunakan melamar ke suatu agensi. Silakan baca artikel dan komentar-komentarnya di sini. Read More

Cara Agar Cepat Direkrut Agensi Asing (Bag. 1)

Saya akan mengambil opening yang sama dengan apa yang dituliskan oleh Pak Ade Indarta (penerjemah senior HPI) di blog beliau, yaitu mengutip sebuah pertanyaan yang berbunyi: “Saya seorang pemula dalam dunia penerjemahan. Apakah karena saya seorang pemula saya harus menunggu lama untuk dapat proyek?”

Pertanyaan yang pernah dilempar di milis Bahtera ini juga pernah saya lempar ke mentor saya, sekitar 3 tahun yang lalu karena saya sudah bidding sana bidding sini tapi belum ada yang mau menggunakan jasa terjemahan saya. Tentu, jawaban mentor saya saat itu berbunyi: “kalau cuma menunggu, bisa selamanya kamu akan menunggu”.

Dan cita-cita saya saat itu adalah segera dipekerjakan oleh agensi asing. Selain bergengsi, nilai eksposurnya tinggi, tentu bayaran yang akan diterima juga bisa bikin senyum-senyum sendiri, kegirangan. Dengan catatan, word count-nya banyak dan harganya cocok 🙂

Maka, jika hanya dengan menunggu saya bisa menghabiskan waktu seumur hidup untuk dapat job, apa yang sebaiknya saya lakukan? Read More

From Zero to Zero until Be a Hero

Menyambung tulisan sebelumnya….

Bekal tambahan

Tak jarang, sebagai penerjemah lepas saya lebih banyak menganggur ketimbang benar-benar full dengan job-job penerjemahan sepanjang pekan. Waktu-waktu “luang” tersebut jika tidak dimanfaatkan dengan benar bisa menjadi bumerang, bom waktu, atau apapun istilahnya.

Terkadang, setelah semingguan mengerjakan 1-2 proyek penerjemahan, hati rasanya ingin berlibur, jalan-jalan, atau sekedar tidur seharian. Apalagi jika baru saja merampungkan sebuah proyek yang lumayan menguras tenaga dan pikiran atau baru saja melewati fase review yang alot 🙂

Waktu jeda menunggu proyek berikutnya kadang menjadi “zona nyaman” tersendiri, yang jika tidak disikapi dengan bijak bisa menjadikan saya merasa malas dan tidak produktif. Maka dari itu, sembari menunggu job berikutnya, biasanya saya “memancing” diri saya sendiri untuk terus aktif.

  1. Membaca. Membaca majalah, membaca jurnal online, membaca apa saja—termasuk membaca diary para penerjemah senior. Membaca adalah salah satu jalan untuk menambah dan memperbaharui wawasan yang memang wajib bagi seorang penerjemah. Tanpa banyak membaca, bisa-bisa saya ketinggalan banyak informasi. Padahal informasi itu sendiri adalah kunci untuk memasuki ruang-ruang (baca: peluang) baru. Artinya, dengan informasi yang saya miliki akan menjadikan saya cukup percaya diri ketika ada tawaran penerjemahan meski tidak ada background pendidikan di bidang tersebut. Misalnya (sekedar gambaran saja), dengan banyak membaca berita dan artikel otomotif, akan membuat saya cukup paham jika ada teks bidang otomotif meski latar belakang pendidikan saya bukan teknik otomotif.
  2. Menulis. Selain membaca, menulis juga perlu, terutama nge-blog. Karena dengan nge-blog, saya bisa menuangkan ide/gagasan saya, pemikiran dan pendapat saya, pengalaman saya, dan juga sebagai “bukti” apa yang menjadi perhatian saya selama ini (apa yang saya senangi).
  3. Voluntary translation. Banyak sekali proyek-proyek penerjemahan yang bersifat sukarela, tak berbayar, tak memiliki deadline, namun sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman dan memberi nilai eksposur. Sebut saja menerjemahkan Wikipedia, menerjemahkan plug-in WordPress, menerjemahkan situs atau modul pendidikan yang tidak berbayar, menerjemahkan UI aplikasi gratisan ataupun open-source, dsb.
  4. Berburu agensi. Ada ribuan agensi dengan berbagai “kelas” memposting job di berbagai forum seperti Proz, translatorscafe, translation directory, dsb. Namun, adakalanya mereka memposting job yang tidak bisa saya tangani (bukan bidang yang saya kuasai). Tapi, itu tidak mengapa. Mereka kadang secara berkala atau bahkan secara terus-menerus membutuhkan penerjemah freelance Artinya, tinggal saya kunjungi situs mereka, cari informasi tentang bagaimana menghubungi mereka, kemudian kirim surat penawaran diri untuk menjadi freelancer mereka. Biasanya, entah sebulan atau dua bulan kemudian, ada 1 atau 2 agensi yang menghubungi saya untuk menindaklanjuti e-mail penawaran saya.
  5. Belajar bahasa asing. Konon, belajar bahasa asing memberi manfaat yang luar biasa terhadap perkembangan dan kesehatan otak. Di samping itu, bisa juga membuka peluang baru di karir penerjemahan, yaitu bertambahnya language pair yang bisa kita tambahkan dalam service list

Kira-kira, apa lagi yang bisa menjadi bekal nge-freelance?